Siroh Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, setelah dakwah beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam ditolak oleh penduduk Thoif, Alloh Ta’alaa menghibur Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan didatangkan Malaikat penjaga gunung dan juga sekumpulan Jin yang kemudian beriman kepada beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam. Setelah itu Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam sudah siap kembali ke Mekkah untuk mendakwahkan kaumnya kembali kepada Tauhid. Namun ketika itu, Zaid bin Haritsah Rodhiyallohu ‘anhu yang menemani perjalanan dakwah beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam ke Tho’if berkata,

“Bagaimana mungkin engkau menemui mereka kembali sedangkan mereka (kaum Quraisy) telah mengusirmu?”.

Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam menjawab, “wahai Zaid! Sesungguhnya Alloh akan menjadikan apa yang engkau lihat sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sesungguhnya Alloh akan menolong Din-Nya dan akan memenangkan Nabi-Nya”.

Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam meneruskan perjalanannya menuju Mekkah hingga manakala sudah mendekat, beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam tinggal di Hira’ sembari mengutus seseorang dari suku Khuza’ah agar mendatangi al-Akhnas bin Syuraiq guna meminta perlindungannya. Lalu dia (al-Akhnas) berkata, “aku ini adalah sekutumu, maka seorang sekutu tidak memberikan perlindungan”. Kemudian beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam mengutus utusannya tersebut kepada Suhail bin ‘Amru, lalu dia berkata, “sesungguhnya Bani ‘Amir tidak memberikan perlindungan kepada Bani Ka’b”. Lalu beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam mengutus utusannya tersebut kepada al-Muth’im bin ‘Adiy, maka berkatalah ia, “ya”. Kemudia dia mengenakan senjata dan mengajak anak-anak dan kaumnya seraya berkata, “Pakailah senjata dan jadilah kalian pondasi Baitullah, karena sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Muhammad”. Dia kemudian mengutus seseorang menemui Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam agar dipersilahkan menemui dirinya. Lalu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam pun masuk menemuinya bersama Zaid bin Haritsah Rodhiyallohu ‘anhu hingga sampai ke Masjid Al-Haram. Disana, al-Muth’im bin ‘Adiy sedang berada di atas tunggangannya sembari berseru,

“wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Muhammad, maka janganlah ada seorang diantara kalian yang mengejeknya”. Setelah itu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam diantar olehnya hingga sampai ke ar-Rukn al-Yamani (salah satu pojok Ka’bah) lalu beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam (menyentuhnya), lalu melakukan thawaf, shalat dua raka’at kemudian pulang ke rumahnya sementara al-Muth’im bin ‘Adiy dan anak-anaknya masih siap siaga dengan senjata hingga beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam benar-benar memasuki rumahnya.

Sementara itu, ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Abu Jahal ketika itu menanyai al-Muth’im, “benarkah engkau sebagai seorang pemberi perlindungan atau pengikut (alias seorang Muslim juga)?”. Dia menjawab, “benar, aku hanya seorang pemberi perlindungan”. Lalu Abu Jahal berkata kepadanya, “kalau begitu, kami telah memberikan perlindungan kepada orang yang telah engkau berikan perlindungan tersebut”. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tetap saja memendam kebaikan yang dibuat oleh al-Muth’im terhadap dirinya tersebut, maka beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam pernah berkata saat di tengah tawanan perang Badar, “Andaikata al-Muth’im masih hidup kemudian dia berbicara kepadaku guna menebus mereka, niscaya akan aku serahkan urusannya kepadanya”.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam kembali ke Mekkah untuk mulai menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah dan individu-individu. Semakin dekat datangnya musim haji, maka orang-orang yang datang ke Mekkah pun semakin banyak, baik dengan berjalan kaki maupun mengendarai unta yang kurus dari seluruh penjuru yang jauh guna melaksanakan ibadah haji dan menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka serta menyebut nama Alloh pada hari yang telah ditentukan. Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wassallam menggunakan kesempatan baik ini dengan mendatangi kabilah demi kabilah dan menawarkan Islam kepada mereka serta mengajak mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang pernah beliau lakukan semenjak tahun ke-4 dari kenabian. Pada tahun ke-10 dari kenabian ini, beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam mulai meminta kepada mereka agar menampung, menolong serta melindunginya hingga beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam dapat menyampaikan wahyu Alloh dengan aman.

Imam Az-Zuhri Rohimahulloh berkata, “Diantara kabilah-kabilah -yang disebutkan kepada kita- yang didatangi oleh Rosululloh dan diajak serta ditawarkan oleh beliau adalah Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Muhârib bin Khasfah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifah, Sulaim, ‘Abs, Bani Nashr, Bani al-Bukâ’, Kindah, Kalb, al-Hârits bin Ka’b, ‘Adzrah dan Hadlârimah. Namun tidak seorangpun dari mereka yang meresponsnya.”

Penawaran Islam kepada kabilah-kabilah yang disebutkan oleh Az-Zuhri ini tidak dilakukan dalam tahun yang sama atau musim yang sama akan tetapi itu terjadi antara tahun ke-4 dari kenabian hingga akhir musim sebelum peristiwa hijrah, sebab menyebutkan persisnya penawaran Islam kepada suatu kabilah pada tahun tertentu tidak memungkinkan, akan tetapi kebanyakan itu terjadi pada tahun ke-10 dari kenabian.

Sementara itu, Ibnu Ishaq Rohimahulloh menyebutkan metode penawaran dan sikap mereka terhadapnya, dan berikut ini adalah ringkasannya,

  1. Bani Kalb

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam datang sendiri ke perkampungan mereka, yang juga disebut Bani Abdulloh. Beliau menyeru mereka kepada Alloh dan menawarkan langsung kepada mereka. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda kepada mereka, “Wahai Bani Abdulloh! Sesungguhnya Alloh telah membaguskan nama bapak kalian”. Namun mereka tetap menolak apa yang ditawarkan itu.

  1. Bani Hanifah

Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam mendatangi mereka di rumah-rumah mereka dan mendakwahi mereka kepada Alloh. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam sendiri yang menawarkan kepada mereka namun tak seorangpun dari kalangan bangsa Arab yang penolakanya lebih buruk daripada penolakan mereka.

  1. Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah

Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam mendatangi mereka dan mendakwahi mereka kepada Alloh. Beliau sendiri juga yang datang menawarkan, Buhairah bin Firas salah seorang pemuka mereka berkata, “Demi Alloh, andaikan aku dapat menculik pemuda ini dari tangan orang Quraisy, tentu orang-orang Arab akan melahapnya”. Kemudian dia melanjutkan, perkataannya kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam, “Apa pendapatmu jika kami berbai’at kepadamu untuk mendukung agamamu, kemudian Alloh memenangkan dirimu dalam menghadapi orang-orang yang menentangmu, apakah kami mempunyai kedudukan sepeninggalmu?”. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam menjawab, “Kedudukan itu terserah kepada Alloh, Dia menempatkannya sesuai kehendakNya”. Buhairah berkata, “Apakah kami harus menyerahkan batang leher kami kepada orang-orang Arab sepeninggalmu? Kalaupun Alloh memenangkanmu, pasti kedudukan itu juga akan jatuh kepada selain kami. Jadi kami tidak membutuhkan agamamu.” Maka, merekapun enggan menerima ajakan beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Kemudian tatkala Bani ‘Amir pulang, mereka bercerita kepada seorang sepuh dari mereka yang tidak dapat berangkat ke Mekkah karena usianya yang sudah lanjut. Mereka memberitahukan kepadanya, “Ada seorang pemuda Quraisy dari Bani Abdul Muththalib menemui kami yang mengaku Nabi. Dia mengajak kami agar sudi melindunginya, bersama-samanya dan pergi ke negeri kami bersamanya”. Orang tua itu menggayutkan kedua tangannya diatas kepala sembari berkata, ”Wahai Bani ‘Amir, adakah sesuatu milik Bani ‘Amir yang tertinggal? Adakah seseorang yang mencari barangnya yang hilang? Demi diri fulan yang ada ditanganNya, itu hanya diucapkan oleh keturunan Isma’il. Itu adalah suatu kebenaran. Mana pendapat yang dahulu pernah kalian kemukakan?”.

  1. Orang-orang yang beriman selain penduduk Mekkah

Disamping Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wassallam menawarkan Islam kepada berbagai kabilah dan utusan, beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam juga menawarkannya kepada perorangan dan individu-individu. Di antara mereka ada yang menolaknya secara baik-baik dan ada pula beberapa orang yang beriman tak lama kemudian setelah musim haji, di antara mereka adalah, Suwaid bin Shamit. Dia adalah seorang penyair yang cerdas, salah seorang penduduk Yatsrib. Dia dijuluki al-Kamil (orang yang sempurna) oleh kaumnya. Julukan ini diberikan karena faktor warna kulitnya, syai’rnya, kehormatan dan nasabnya. Dia datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Lalu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam mengajaknya masuk Islam. Dia berkata, “Sepertinya apa yang ada padamu sama dengan apa yang ada padaku”. Lalu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam berkata kepadanya, “Apa yang ada padamu?”. Dia menjawab, “Hikmah Luqman”. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam berkata lagi, “Bacakan kepadaku!”. Dia pun membacakannya, maka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam pun berkata, “Sesungguhnya ucapan ini indah akan tetapi apa yang aku bawa lebih indah lagi dari ini, ialah Quran yang diturunkan oleh Alloh kepada ku, ia adalah petunjuk dan cahaya”. Kemudian beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam bacakan ayat-ayat Al-Quran kepadanya dan mengajaknya untuk memeluk Islam. Dia menerimanya dan masuk Islam. Dia berkomentar, “Sesungguhnya ini memang benar lebih indah”. Kemudian, setelah tidak berapa lama tinggal di Madinah, dia terbunuh pada perang yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj sebelum peristiwa yang disebut dengan Bu’ats. Dia masuk Islam pada permulaan tahun 11 dari kenabian.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini semoga bisa mengambil manfaat darinya, juga semakin menambahkan kecintaan pada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: