Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang adab-adab berpakaian bagi seorang muslimah, yang mana kesempatan yang lalu telah kita membahas dua belas dari adab-adab berpakaian, dan adab yang ketiga belas adalah mendahulukan yang kanan.

Di antara sunnah Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam yang sudah mulai di tinggalkan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu mendahulukan yang kanan ketika memakai pakaian dan semacamnya. Hal ini sebagimana yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan “Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan “Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala urusan, ketika memakai sandal, bersisir dan bersuci”. (HR. Muslim)

Berkaitan dengan hadits tersebut Imam Nawawi Rohimahulloh mengatakan “Hadits ini mengandung kaidah baku dalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yang kanan pada saat itu semisal memakai baju, celana panjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, menggunting kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, menggundul kepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC, makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berkebalikan dari hal tadi dianjurkan untuk menggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar dari masjid, membuang ingus, istinja’, mencopot baju, celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisi kanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan”.

Kemudian adab pakaian muslimah selanjutnya yaitu berkaitan dengan warna pakaian.

Dalam hal warna bepakaian bagi muslimah ini, banyak hadits atau atsar yang banyak di sebutkan oleh para ‘Ulama, di antaranya celupan warna merah, warna ini sebagaimana yang pernah di gunakan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha,

وَلَبِسَتْ عَائِشَةُ رَضِىَ اللهُ تَعاَلىَ عَنْهَا الثِّيَابَ الْمُعَصْفَرَةَ وَهِيَ مُحْرِمَةٌ

Artinya, “Aisyah Rodhiyallohu ‘anha memakai pakaian celupan warna merah ketika sedang ihram”. (HR. Bukhori)

Kemudian warna pakaian yang boleh digunakan oleh muslimah yang kedua yaitu warna merah, hal ini sebagaimana hadits, yang pernah di riwayatkan dengan sanad yang hasan,

عَنْ إِبْرَاهِيمَ ؛ أَنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ مَعَ عَلْقَمَةَ وَالأَسْوَدِ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَيَرَاهُنَّ فِي اللُّحُفِ الْحُمْرِ

Artinya, “Dari Ibrahim an-Nakha’i bahwasannya ia bersama ’Alqamah dan Al-Aswad masuk menemui istri-istri Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam. Maka ia melihat mereka mengenakan mantel berwarna merah”. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Warna selanjutnya yaitu motif sedikit merah atau hijau, warna ini seperti yang pernah di riwayatkan ummu Khalid Rodhiyallohu ‘anha bercerita,

))عَنْ أُمِّ خَالِدٍ بِنْتِ خَالِدٍ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ فَقَالَ مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ فَسَكَتَ الْقَوْمُ قَالَ ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ فَأَخَذَ الْخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا وَقَالَ أَبْلِي وَأَخْلِقِي وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ((

Artinya, “Dari Ummu Khalid binti Khalid Rodhiyallohu ‘anha, “Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dating dengan membawa beberapa helai pakaian yang bermotif kecil warna hitam. Beliau berkata, “Menurut kalian, siapa yang pantas untuk memakai baju ini ?”. Semua diam, Beliau kemudian berkata, “Panggil Ummu Khalid”. Maka Ummu Khalid pun dating dengan dipapah. Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam mengambil pakain tersebut dengan tangannya dan kemudian memakaikannya kepada Ummu Khaalid Rodhiyallohu ‘anha seraya berkata “Pakailah ini sampai rusak”. Pakaian tersebut dihiasi dengan motif lain berwarna hijau atau kuning”. (HR. Bukhori)

Kemudian warna pakaian muslimah yang keempat yaitu Warna hijau. Hal ini seperti yang diriwayatkan,

))عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى الْمُؤْمِنَاتُ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَ((

Artinya, “Dari ’Ikrimah, Bahwasannya Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh ’Abdurrahman bin Az-Zubair Al-Quradhy. ’Aisyah berkata, “Dia memakai khimar yang berwarna hijau, akan tetapi ia mengeluh sambil memperlihatkan warna hijau pada kulitnya”. Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tiba –dan para wanita menolong satu kepada yang lainnya– maka ’Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat kondisi yang terjadi pada wanita-wanita beriman, warna kulit mereka lebih hijau dari pada bajunya karena kelunturan”. (HR. Bukhori)

Dan warna yang paling utama dipakai oleh kaum muslimah adalah hitam.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini berkaitan dengan busana Muslimah, semoga Alloh memudahkan kita untuk senantiasa berbusana sesuai dengan syariatNya terutama bagi Muslimah agar memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: