Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini kita akan lanjutkan pembahasan tentang “Busana Muslimah”.

Di antara kebaikan yang Alloh Ta’alaa berikan kepada kita yaitu menjadikan pakaian untuk menutup aib atau aurat kita, Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimah berpakaian tetapi tidak sesuai syari’at islam yang mulia ini, perbuatan ini salah satunya dikarenakan sebagian kita belum faham adab islam dalam berpakaian. Kesempatan yang lalu kita telah membahas enam dari adab-adab berpakaian seorang muslimah, dan pada kesempatan kali ini kita akan lanjutkan kembali adab pakaian muslimah yang ketujuh, yaitu disunnahkan menampakkan adanya pemberian nikmat dari Alloh Ta’alaa dalam berpakaian.

Sangat di sunnahkan bagi kita yang Alloh Ta’alaa berikan kecukupan harta, untuk menampakkan nikmat-nikmat Alloh Ta’alaa,di antaranya yaitu memakai pakaian yang indah, tentunya tanpa sikap yang berlebih-lebihan dan sikap sombong.

Dari Abu Al-A’wash dari ayahnya ia berkata, “Saya pernah mendatangi Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan pakaian yang lusuh lagi murahan. Maka Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apakah kamu memiliki harta? Abul A’wash berkata, “iya”. Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda lagi, “Dari harta yang mana?” Abul A’wash berkata, “Alloh telah memberi ku beberapa sapi dan kambing, kuda dan budak,” Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila Alloh telah memberi mu harta, maka hendaknya engkau menampakkan pengaruh nikmat dan kemuliaan”. (HR. Abu Dawud)

Kemudian adab yang kedelapan dalam berpakain bagi seorang muslimah yaitu tidak mengenakan pakaian syuhroh atau pakaian dengan niat terkenal dan menonjol dengan pakaian tersebut.

Kebanyakan kita, biasanya berlomba-lomba memakai pakaian yang bernilai tinggi lagi mewah, dengan niat ingin lebih tinggi kedudukannya dari yang lain, congkak dan sombong.

Mengenai hal ini, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam mengancam orang-orang yang mengenakan pakaian syuhroh. Mengenai hal ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيْهِ النَّارُ

Artinya, “Barangsiapa yang memakaipakaiansyuhroh (ketenaran) di dunia, maka Alloh akan mengenakannya pakaian kehinaan di hari kiamat, kemudian ia pun disiksa di dalam neraka dengan memakai pakaian tersebut”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kemudian Adab kesembilan bagi muslimah dalam berpakaian yaitu dibolehkan bagi wanita memakai pakaian sutera. Sedangkan bagi laki-laki haram memakai sutera.

Berkaitan dengan hal diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam pernah mengambil kain sutera, dan menjadikannya di sebelah kanannya, mengambil emas dan menjadikannya di sebelah kirinya, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua benda ini yakni sutera dan emas, haram atas laki-laki dari ummatku”. (HR. Abu Dawud)

Adab yang kesepuluh dalam berpakaian bagi muslimah yaitu disunnahkan memanjangkan pakaian.

Syariat Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam, membedakan antara pakaian laki-laki dan pakaian perempuan terutama dalam perkara panjang pendeknya. Syariat islam membatasi laki-laki agar pakaian tidak tinggi melebihi pertengahan betis dan juga tidak rendah dari kedua mata kaki. Sedangkan bagi perempuan, yaitu menutup kedua kaki, sampai tidak ada suatupun yang terlihat darinya. Hal ini karena badan perempuan atau satu bagian darinya, merupakan fitnah bagi laki-laki, maka perempuan diperintahkan untuk menutup seluruhnya.

Sedangkan bagi laki-laki, diperintahkan untuk mengangkat pakaian mereka, agar sifat sombong, ‘ujub, serta angkuh, tidak masuk kedalam hati laki-laki.

Pada realita yang ada saat ini banyak dari kaum muslimin yang belum mengerti akan syari’at ini, di antaranya di mana laki-laki memanjangkan pakaian sampai menyeret tanah bahkan menyapunya, sedangkan perempuan memperpendek pakaian sampai nampak betisnya.

Padahal dalam hal ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam telah memberi batasan untuk pakaian muslimah, hal ini sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Ummu Salamah Rodhiyallohu ‘anha bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam ketika disebutkan kepadanya tentang kain sarung,

فَالْمَرْأَةُ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: ” تُرْخِى شِبْرًا “. قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا. قَالَ: ” فَذِرَاعًا لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ

Bagaimana dengan wanita, wahai Rosululloh? Beliau menjawab, “Hendaknya ia memanjangkannya satu jengkal”. Ummu Salamah berkata, “Jika demikian auratnya masih akan terlihat?” Rosululloh bersabda, “Hendaknya ia memanjangkan satu hasta dan jangan memanjangkannya lebih dari itu”. (HR. Abu Dawud)

Selanjutnya di antara adab dalam berpakaian muslimah yang kesebelas adalah tidak mengenakan pakaian yang ada sholbanya itu salib atau gambar.

Hal ini sebagaimana yang di pernah diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha membuat bantal yang terdapat gambar bernyawa untuk Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam, dari Al-Qosim dari Aisyah, “Bahwa Aisyah membeli bantal yang ada gambar-gambarnya, maka Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam berdiri di pintu dan tidak masuk, maka Aisyah Rodhiyallohu ‘anha berkata, “Saya bertaubat kepada Alloh dari dosa yang ku perbuat.” Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Bantal apa ini?”. Aisyah menjawab, “Untuk tempat duduk dan engkau jadikan bantal”. Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya pembuat bantal ini akan diadzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka, hidupkanlah oleh kalian apa yang telah kalian ciptakan, dan sesungguhnya malaikat tidak akan masuk kedalam rumah yang ada padanya gambar”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Adab yang selanjutnya yaitu tidak mengenakan wewangian atau parfum yang baunya menyengat sehingga tercium orang lain.

Dalam hal ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوْا مِنْ رِيْحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Artinya, “Wanita manapun yang memakai minyak wangi kemudian melewati sebuah kaum agar mereka dapat menikmati keharumannya, maka wanita itu adalah pezina”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita tentang adab-adab berpakaian untuk muslimah, semoga bermanfaat. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: