Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada pertemuan sebelumnya telah kita bahas bersama sebanyak 4 buah dari Ittiba’ atau mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, diantaranya adalah Mahabbatulloh yaitu mendapatkan kecintaan Alloh Azza wa Jalla sekaligus pengampunan, lalu yang kedua yaitu akan memperolah rahmat dari Alloh Ta’alaa, yang ketiga adalah akan mendapatkan tambahan petunjuk dari Alloh Ta’alaa atau hidayatulloh sedangkan yang keempat yaitu akan dikumpulkan bersama orang-orang pilihan di surga.

Pada edisi kali ini kita masih akan melanjutkan pembahasan buah dari Ittiba’ atau mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam. Berikut ini adalah buah ittiba’ kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam

Yang kelima, Nadharatul Wajhi.

Salah satu bentuk ittiba’ Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam adalah mendengarkan, mempelajari, menghafal, dan memahami hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Orang yang mempelajari hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, menghafal kemudian menyampaikannya apa adanya tanpa menambah atau mengurangi, maka Alloh Ta’alaa akan membuat wajahnya berseri dan bersinar.

Sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

Artinya, “Semoga Alloh menyinari wajah seseorang yang mendengar hadits dari kami, lalu ia hafal sehingga ia menyampaikannya kepada orang lain. Boleh jadi seorang pembawa fiqih menyampaikan ilmunya kepada orang yang lebih paham. Dan boleh jadi pembawa fiqih bukanlah seorang yang faqih”. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini mendorong kita untuk selalu bersemangat mempelajari, memahami, dan menghafal hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, kemudian menyampaikan teks hadits itu apa adanya dengan penuh amanah tanpa menambah atau mengurangi sedikitpun. Jika kita itu kita lakukan kita berhak mendapatkan wajah yang bersinar di hari kiamat nanti.

Hadits di atas juga menyatakan bahwa mungkin saja orang yang disampaikan kepadanya suatu ilmu kemudian ia lebih paham daripada yang menyampaikan. Atau bahkan bisa jadi yang menyampaikan sebuah riwayat tidak memahami riwayat tersebut, sedangkan yang disampaikan justru memahaminya dengan baik.

Yang Keenam, Mujawwaratur Rasul (Bersama Rasulullah)

Orang yang mencintai Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk ittiba’ kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan mengikuti sunnah beliau. Maka orang ini akan bersama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam di surga, seperti sabda beliau,

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِى فَقَدْ أَحَبَّنِى وَمَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِى فِى الْجَنَّةِ

Artinya, “Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku, maka ia bersamaku di surga”. (HR. At-Tirmidzi)

Yang Ketujuh, Izzatun Nafsi.

Orang yang mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan ikhlas semata-mata karena mencintai Alloh dan Rosul-Nya, akan meraih kemuliaan dan kekuatan jiwa dihadapan Alloh Ta’alaa. Betapa tidak? Ia telah mendapatkan kecintaan, ampunan, rahmat, hidayah, dan berbagai anugrah lain dari Alloh Ta’alaa. Dengan itu semua terangkatlah dirinya menuju tempat yang tinggi dan mulia, ia tidak lagi peduli dengan kemuliaan di mata manusia selama ia mulia di sisi Alloh Ta’alaa.

Ingatlah, kemuliaan itu terletak pada mengikuti Alloh Al-‘Aziz yang memiliki kemuliaan atau keperkasaan dan mengikuti Rosul-Nya.

Yang Kedelapan, Mendapatkan Kebahagiaan.

Alloh Ta’ala berfirman,

Artinya, “Yaitu orang-orang yang mengikut rosul,Nabi yang Ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya Al Quran, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-A’rof : 157)

Keberuntungan pasti akan diperoleh oleh mereka yang selalu ittiba’ kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan beriman kepadanya, memuliakannya, menolongajarannya, dan selalu mengikuti cahaya Al-Qur’an.

Yang Kesembilan, Kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Tak dapat diragukan lagi bahwa orang yang mendapatkan semua nilai dari mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam tersebut adalah orang-orang yang pasti berbahagia hidupnya dengan kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat.

Alloh Ta’ala berfirman,

Artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl : 97)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: