Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai “Bicara tanpa pahala”.

Waktu adalah modal untuk melakukan amal sholih. Orang yang mengerti hakikat ini, maka dia tidak akan menggunakannya kecuali untuk perkara yang bermanfaat. Dia akan berusaha memanfaatkan segala potensi diri untuk mendapatkan pahala sebanyak mungkin. Diantara yang bisa mudah dimanfaatkan untuk menabung bekal disisi Alloh ‘Azza wa Jalla adalah lidah. Dengan lidah, seseorang bisa berdzikir dan saling nasehat menasehati sehingga meraih banyak pahala. Namun sebaliknya, lidah juga bisa mengakibatkan dosa dan menyeret seseorang ke neraka, jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kesadaran seseorang terhadap fungsi dan bahaya lisan ini akan mendorong dirinya untuk menjaga lidah, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.

Ada beberapa bencana yang dapat ditimbulkan oleh lidah jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Diantaranya :

Yang pertama. Membicarakan Sesuatu Yang Tidak Bermanfaat.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya”. (HR. At-Tirmidzi)

Sesuatu yang tidak bermanfaat itu, bisa berupa perkataan atau perbuatan, perkara yang haram, atau makruh, atau perkara mubah yang tidak bermanfaat.

Oleh karena itu, supaya terhindar dari bahaya lisan yang pertama ini, hendaklah kita berbicara sesuatu yang mengandung kebaikan. Jika tidak bisa, hendaknya diam. Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam”. (HR. Bukhori Muslim)

Walaupun ini berat, namun seyogyanya seorang hamba yang ingin selamat di akhirat agar selalu berusaha untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa Muwarriq al-‘Ijli Rohimahulloh berkata,

Artinya, “Ada satu perkara yang aku sudah mencarinya semenjak dua puluh tahun lalu. Aku belum berhasil meraihnya. Namun aku tidak akan berhenti mencarinya”. Orang-orang bertanya, “Apa itu wahai Abu Mu’tamir?”. Dia menjawab, “Diam, tidak membicarakan dari sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku”.

Yang kedua. Berdebat Dengan Cara Batil atau Tanpa ‘Ilmu.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Alloh adalah orang yang suka berdebat”. (HR. Bukhori Muslim)

Berdebat dalam hadits ini maksudnya adalah berdebat dengan cara batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan. Karena debat itu biasanya akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam, dan mencela orang lain. Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya”. (HR. Abu Dawud)

Perlu kita ingat kembali bersama. Mengingkari kemungkaran dan menjelaskan kebenaran merupakan kewajiban seorang Muslim. Jika penjelasan itu diterima, itulah yang dikehendaki. Namun jika ditolak, maka hendaklah dia meninggalkan perdebatan. Ini dalam masalah agama, apalagi dalam urusan dunia, maka tidak ada alasan untuk berdebat.

Yang ketiga. Banyak Berbicara, SukaMengganggu Dan Sombong.

Dari Jabir Rodhiyallohu ‘anhu, dari Abu Hurairoh Rodhiyallahu‘anhu, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya termasuk orang yang paling ku cintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya dengan ku pada hari kiamat, adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya di antara kamu. Dan sesungguhnya orang yang paling ku benci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya dengan ku pada hari kiamat, adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun. Para sahabat berkata, “Wahai Rosululloh, kami telah mengetahui al-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi apakah al-mutafaihiqun?. Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Tirmidzi)

Imam At-Tirmidzi Rohimahulloh mengatakan, ”ats-Tsartsâr adalah orang yang banyak bicara, sedangkan al-mutasyaddiq adalah orang yang biasa mengganggu orang lain dengan perkataan dan berbicara jorok kepada mereka”.

Imam Ibnul Atsîr Rohimahulloh menjelaskan, “ats-Tsartsârûn adalah orang-orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri dan keluar dari kebenaran. Adapun al-Mutasyaddiqûn adalah orang-orang yang berbicara panjang lebar tanpa hati-hati. Ada juga yang mengatakan, al-mutasyaddiq adalah orang yang mengolok-olok orang lain dengan mencibirkan bibir kearah mereka”.

Imam Al-Mundziri Rohimahulloh juga mengatakan, “ats-Tsartsâr adalah orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri. Adapun al-Mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan seluruh bibirnya untuk menunjukkan kefasihan dan keagungan perkataannya. Sedangkan al-Mutafaihiq hampir semakna dengan al-mutasyaddiq. Karena maknanya adalah orang yang memenuhi mulutnya dengan perkataan dan berbicara panjang lebar untuk menunjukkan kefasihannya, keutamaannya, dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Oleh karena inilah, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam menafsirkan al-mutafaihiq dengan orang yang sombong.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Marilah kita jaga diri kita dari perbuatan-perbuatan yang berakibat buruk pada diri kita sendiri. SemogaA lloh ‘Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada kita, untuk mengisi hari-hari kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang tidak bermanfaat. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: