Siroh Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, setelah peristiwa (janji setia) bai’at aqobah kedua, syaithan pun menyingkap perihal perjanjian tersebut. Setelah perjanjian (bai’at) untuk menjaga dan melindungi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dilaksanakan oleh tujuh puluh kaum muslimin dari Yatsrib (Madinah) dan para peserta hamper saja akan berpencar, salah satu syaithan menyingkap pelaksanaannya. Namun penyingkapan ini baru terjadi pada detik-detik akhir bai’at dilakukan, sehingga tidak mungkin menyampaikan kepada para pemimpin Quraisy mengenai berita rahasia ini dan mereka dapat menyerang secara mendadak orang-orang yang berbai’at di celah Aqobah tersebut.

Meskipun terlambat, syaithan pun tetap nekat berdiri di puncak bukit sembari berteriak dengan suara yang tidak pernah sekencang itu terdengar, “Wahai Ahlul Akhasyib (pemilik rumah-rumah)! Apakah kalian ingin mengetahui Muhammad dan para penganut Shabi`ah (menurut klaim mereka islam adalah shabi’ah) yang bersamanya? Sungguh, mereka telah berkumpul untuk memerangi kalian”. Lalu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Inilah Azibbul ‘Aqabah (nama syaithan dan berbentuk ular), Demi Alloh, aku akan mengkonsentrasikan untuk (menghadapi) mu wahai musuh Alloh!.” Kemudian beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam menyuruh kaum Anshor yang berbai’at kepada beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam untuk berpencar dan kembali ketenda mereka masing-masing.

Ketika mendengar seruan orang musyrik tersebut, al-‘Abbas bin ‘Ubadah bin Nadllah Rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan al-Haq, jika engkau (wahai Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam) menghendaki, maka kami besok akan memerangi penduduk Mina dengan pedang-pedang kami ini.” Lantas Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Kita tidak diperintahkan demikian, akan tetapi kembalilah kalian ke tenda kalian masing-masing”. Lantas merekapun kembali dan tidur hingga pagi hari.

Setelah tersebar kabar terjadinya bai’at antara Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dan 70 orang kaum anshor di Aqobah, kaum Quraisy mengajukan protes kepada para pemimpin Yatsrib. Bukan hanya itu, terjadilah kegemparan di tengah kaum kafir Quraisy yang menimbulkan ketidak stabilan dan kesedihan karena mereka sebenarnya sangat mengetahui persis apa akibat yang akan ditimbulkan oleh bai’at seperti itu dan akibatnya langsung terhadap diri dan harta mereka. Maka, begitu pagi menyingsing, berangkatlah rombongan besar yang terdiri dari para pemimpin Musyrikin Mekkah dan para penentang Tauhid menuju perkemahan penduduk Yatsrib guna mengajukan protes keras terhadap dilaksanakannya perjanjian ini. Mereka berkata, “Wahai para khalayak suku Khazraj! Sesungguhnya telah sampai berita ketelinga kami bahwa kalian telah mendatangi shahib (teman, maksudnya Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam) kami ini untuk kalian bawa keluar dari belakang kami dan membai’atnya dalam upaya menyerang kami. Dan, sesungguhnya demi Alloh, tidak ada satu perkampungan pun dari perkampungan yang dihuni bangsa Arab yang lebih kami benci bergejolaknya perang antara kami dan mereka selain kalian”.

Kaum Musyrikin suku Khazraj yang mereka datangi tidak tahu menahu soal bai’at tersebut, karena bai’at itu dilakukan dengan penuh rahasia dan di bawah kegelapan malam. Maka para pemimpin Musyrikin Khazraj langsung bangkit untuk bersumpah atas nama Alloh, “Tidak terjadi hal seperti itu dan kami tidak mengetahuinya”. Hingga datanglah para pemuka kaum kafir Quraisy itu menghadap ‘Abdullah bin Ubay bin Salul yang langsung berkata, “Ini berita batil, bukan seperti ini kejadiannya dan kaumku tidak akan ada yang berani lancang terhadapku seperti ini. Andai kata aku berada di Yatsrib niscaya kaumku tersebut tidak berani berbuat seperti itu terhadapku hingga menunggu perintahku dulu”. Sementara kaum Muslimin di kalangan mereka, satu sama lain saling melirik, kemudian membungkam diri, tidak seorangpun dari mereka yang berbicara, menyanggah ataupun membenarkan. Akhirnya para pemuka Quraisy lebih cenderung membenarkan kaum Musyrikin, lalu pulang dengan tangan hampa.

Para pemimpin Mekkah pun pulang dengan tangan hampa dan mereka menjadi yakin terhadap kebohongan berita pembai’atan tersebut, akan tetapi mereka masih melacak terus informasi tentangnya dan mengkajinya secara seksama hingga akhirnya mereka yakin bahwa sebenarnya berita itu benar adanya dan pembai’atan benar-benar telah terjadi. Kebenaran berita tersebut diketahui setelah para jama’ah haji pulang ke negeri mereka masing-masing. Para pasukan berkuda kaum Quraisy pun bergegas mengejar orang-orang Yatsrib. Namun semua ini ibarat nasi telah menjadi bubur, hanya saja rupanya mereka sempat memergoki Sa’d bin ‘Ubadah dan al-Mundzir bin ‘Amr, lalu langsung mengusir mereka.

Terhadap al-Mundzir, mereka tidak dapat berbuat banyak sedangkan terhadap Sa’d, mereka menangkapnya, kedua tangannya diikat kelehernya dengan tali kendaraannya, lalu mereka memukulnya, menyeretnya dan mencambak rambutnya hingga memasuki kota Mekkah. Tak berapa lama, datanglah al-Muth’im bin ‘Adiy dan al-Hârits bin Harb bin Umayyah yang membebaskannya dari tangan para penentang tauhid tersebut. Hal ini dapat terjadi, karena Sa’d rupanya pernah memberikan perlindungan kepada kafilah kedua orang tersebut untuk lewat di Madinah. Sementara itu, ketika kaum muslimin peserta Bai’at tadi kehilangan jejak Sa’d, kaum Anshor melakukan musyawarah untuk kembali mengambilnya, namun tiba-tiba dia sudah muncul di hadapan mereka sehingga semua kaum Anshor ini akhirnya meneruskan perjalanan hingga sampai ke Madinah.

Itulah Bai’at ‘Aqabah yang lebih dikenal dengan Bai’at ‘Aqabah Kubro yang berlangsung dalam suasana cinta, loyalitas, solidaritas antar sesame kaum Mukminin yang semakin memancar, saling percaya, keberanian dan kepahlawanan di dalam menempuh jalan Alloh Ta’alaa. Seorang Mukmin dari kalangan penduduk Yatsrib tentu amat empati terhadap saudaranya yang tertindas di Mekkah, fanatik terhadapnya, murka terhadap orang yang menzhaliminya serta bergemuruh di seluruh persendian tubuhnya perasaan kasih terhadap saudaranya ini yang dicintainya, walaupun dari kejauhan. Curahan-curahan hati dan perasaan-perasaan seperti ini bukan muncul akibat adanya hubungan ras yang sewaktu-waktu bisa saja redup akan tetapi ia bersumber dari keimanan kepada Alloh, Rasul dan Kitab-Nya.

Keimanan yang tidak akan luntur di hadapan kekuatan-kekuatan dzhalim dan musuh manapun. Keimanan yang bila berhembus, maka ia akan membawa sesuatu yang menakjubkan terhadap ‘aqidah dan praktiknya. Dengan keimanan seperti ini kaum Muslimin mampu menorehkan berbagai pekerjaan di atas lembaran-lembaran zaman, meninggalkan bekas padanya, tiada padanannya di masa lampau dan kontemporer serta tidak akan ada pula pada masa yang akan datang.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah hebatnya pengaruh bai’at Aqobah dan berimannya penduduk Yatsrib terhadap dakwah Islam. Kemudian pada edisi berikutnya, insyaaAlloh kita akan menyimak semakin kuatnya pengaruh keimanan penduduk Madinah terhadap tersebarnya dakwah islam kepada seluruh Jazirah Arab bahkan seluruh dunia. Apakah yang akan terjadi berikutnya? insyaaAlloh kita akan simak pada pembahasan yang akan datang. Wallohu a’lam… (red/admin)