Pertanyaan :

Dari Yesi. gimana hukum nya, kalo masalah azan tiap bulannya ada imbalannya?

Jawaban :

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, untuk semua ibadah murni, tidak ada sisi manfaat langsung bagi orang lain, tidak boleh meminta upah di sana.

Dari Utsman bin Abil Ash Rodhiyallohu ‘anhu, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

“Ambilah muadzin yang tidak meminta upah untuk adznnya”. (HR. Imam Ahmad)

Hadits ini menunjukkan, bahwa salah satu sifat muadzin yang baik adalah muadzin yang tidak mengambil upah.

Hanya saja, aturan berlaku, jika upah itu hanya untuk adzannya. Berbeda jika di sana ada bentuk aktivitas yang dia lakukan.

Imam As-Shon’ani Rohimahulloh menyatakan, “Hadits Utsman bin Abil ‘Ash Rodhiyallohu ‘anhu tidaklah menunjukkan haramnya menerima upah untuk muadzin. Ada yang mengatakan, “Boleh mengambil upah untuk adzan dalam kondisi tertentu. Karena upahnya bukan sebatas untuk adzannya tapi untuk perjuangan dia yang selalu siaga, seperti upah untuk orang yang mengintai”.

Ketika di sana ada tugas tambahan, yang sifatnya bukan semata mengumandangkan adzan, para ulama membolehkan muadzin digaji. Mereka digaji karena telah memberikan layanan bagi kaum muslimin.

Ibnu Qudamah Rohimahulloh mengatakan, “Karena kaum muslimin membutuhkan orang semacam ini, Sementara bisa jadi tidak ada orang yang mau secara suka rela melakukannya. Jika dia tidak digaji, bisa menelantarkan hidupnya”.

Selama di tengah kaum muslimin tidak ada orang yang secara suka rela melayani kebutuhan mereka dalam menjaga aktivitas ibadah, maka boleh memperkerjakan orang untuk menjalani tugas itu dan dia digaji. Wallohu a’lam.

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah SALAM FM

%d blogger menyukai ini: