Pertanyaan :

Dari Hamba Alloh, Pak Ustadz, bapak saya sering sesak nafas, umurnya 82 tahun. Puasa tidak kuat, bagaimana bayar puasanya?

Jawaban :

Para ulama sepakat bahwa orang tua yang tidak mampu berpuasa, boleh baginya untuk tidak berpuasa dan tidak ada qodho baginya. Menurut mayoritas ulama, cukup bagi mereka untuk memberi fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Pendapat mayoritas ulama inilah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa, yakni jika mereka tidak berpuasa membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin”. (QS. Al-Baqoroh : 184)

Begitu pula orang sakit yang tidak kunjung sembuh, dia disamakan dengan orang tua rentah yang tidak mampu melakukan puasa sehingga dia diharuskan mengeluarkan fidyah yakni memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.

Para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, bersepakat bahwa fidyah dalam puasa dikenai pada orang yang tidak mampu menunaikan qodho’ puasa. Hal ini berlaku pada orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit dan sakitnya tidak kunjung sembuh.

Perlu diketahui oleh kita semua bahwa fidyah tidak boleh dibayar dengan uang tunai yang senilai dengan makanan. Karena di dalam ayatnya secara tegas dikatakan harus dengan makanan.

Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah yang bersangkutan. Kadarnya adalah setengah sho’ dari makanan pokok bagi setiap hari yang ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang sudah ditetapkan.

Yang lebih tepat dalam masalah ini adalah dikembalikan pada ‘urf atau kebiasaan yang lazim.  Maka kita dianggap telah sah membayar fidyah jika telah memberi makan kepada satu orang miskin untuk satu hari yang kita tinggalkan.

Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,

Yang pertama, Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia lanjut dan tidak kuat berpuasa. Jadi, kita bisa membayarnya di akhir puasa atau bulan syawal dengan mengundang orang-orang miskin.

Kemudian cara yang kedua, Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk.

Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari. Dan cara pembayaran atau pelaksanaannya sudah disepakati dan tidak ada perselisihan diantara ulama.

Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Romadhon. Misalnya, Ada orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Romadhon benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Romadhon.

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah SALAM FM

%d blogger menyukai ini: