Dari Madih di Babelan Bekasi,

Pa kyai klo solat saya sebagai makmum, lantas saya mndengar bacaan imam. Kalau imam membaca surat apakah makmum membaca al-Fatihah atau mndengarkan bacaan imam? Terima kasih.

Jawaban:

Hukum membaca al-Fatihah bagi makmum dalam sholat berjamaah merupakan masalah yang sering diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan ini berasal dari pemahaman dalil. Karena ada dalil memerintahkan untuk membacanya dan ada juga dalil yang memerintahkan diam ketika imam membaca al-Qur’an.

Adapun dalil yang mewajibkan membaca Al-Fatihah di Belakang Imam diantaranya;

Sebuah hadits dari ‘Ubadah bin Ash Shoomit rodhiallohu anhu, bahwasanya Rosululloh sholallohu alaihi wasallam  bersabda,

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah”. [HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394]

Kemudian disebutkan juga dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiallohu anhu;

Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan tidak membaca Al-Fatihah di dalamnya, maka shalatnya itu kurang.” Perkataan ini diulang sampai tiga kali. [HR. Muslim no. 395.]

Kemudian di samping dalil-dalil yang disebutkan tadi, ada beberapa dalil yang memerintahkan agar makmum diam ketika imam membaca surat karena bacaan imam dianggap sudah menjadi bacaan makmum.

Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Al-A’rof ayat 204 yang berbunyi;

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”

kemudian disebutkan juga dalam hadits dari Abu Huroiroh rodhiallohu anhu ia berkata,

“Nabi sholallohu alaihi wasallam shalat bersama para sahabatnya yang kami mengira bahwa itu adalah shalat subuh. Beliau bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang membaca surat (di belakangku)?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya. ” Beliau lalu bersabda: “Kenapa aku ditandingi dalam membaca Al Qur`an? [HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah, juga yang lainnya. Hadits ini shahih]

Dalil lainnya adalah sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam,

Barangsiapa yang shalat di belakang imam, maka bacaan imam menjadi bacaan untuknya. [HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 850]

Hadits lainnya lagi adalah sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Bukhori dan muslim yang berbunyi;

Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam ruku’, maka ruku’lah. Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamd’. Jika imam sujud, sujudlah.

Kemudian dalam riwayat Muslim pada hadits Abu Musa terdapat tambahan,

Jika imam membaca (alFatihah), maka diamlah.

Untuk memahami dua sisi yang seolah-olah bertentangan tersebut, para ulama menempuh metode menjama’ di antara dalil-dalil yang ada.

Ibnu Taimiyah rohimahulloh juga pernah ditanya hukum membaca al-Fatihah di belakang imam. Beliau mengatakan bahwa para ulama telah berselisih menjadi tiga pendapat.

Dua pendapat pertama adalah yang menyatakan tidak membaca al-Fatihah sama sekali di belakang imam dan yang lainnya menyatakan membaca surat al-fatihah dalam segala keadaan.

Pendapat ketiga yang dianut oleh kebanyakan salaf yang menyatakan bahwa jika makmum mendengar bacaan imam, maka hendaklah ia diam dan tidak membaca surat. Karena mendengar bacaan imam itu lebih baik dari membacanya.

Jadi dapat disimpulkan; jika imam menjaharkan bacaannya, maka cukup bagi kita mendengar bacaan tersebut. Namun jika tidak mendengar karena posisinya jauh dari imam, maka hendaklah membaca surat tersebut menurut pendapat yang lebih kuat dari pendapat-pendapat yang ada. Inilah pendapat Imam Ahmad dan selainnya.

Namun jika tidak mendengar karena ia tuli, atau ia sudah berusaha mendengar namun tidak paham apa yang diucapkan, maka di sini ada dua pendapat di madzhab Imam Ahmad. Pendapat yang terkuat, tetap membaca al-Fatihah karena yang utama adalah mendengar bacaan atau membacanya. Dan saat itu kondisinya adalah tidak mendengar. Ketika itu tidak tercapai maksud mendengar, maka tentu membaca al-Fatihah saat itu lebih utama daripada diam. [Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 23/265-268]. Akan tetapi jika ma’mum membaca al-Fatihah, maka ia tidak salah dan shalatnya tetap sah.

Wallohu a’lam

Dijawab oleh Tim Lajnah Radio Salam

%d blogger menyukai ini: