Pemuda Hijrah – Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Alloh, hari demi hari berlalu, dosa demi dosa kita perbuat, kemaksiatan demi kemaksiatan menorehkan luka menganga dan noda-noda hitam di dalam hati kita.

Jika kita ditanya apakah kita percaya dengan kehidupan akhirat?, kita jawabya, tentu kita percaya, apakah kita percaya tentang balasan amal kebaikan dan keburukan?. Apakah kita percaya dengan azab dan nikmat kubur?. Apakah kita percaya tentang surge dan neraka?. Dan seabrek pertanyaan lainnya. Kita pasti lagi-lagi akan menganggukan kepala kita dengan pasti, tentu kita percaya.

Tapi sahabat, benarkah pengakuan itu?. Lihatlah sahabat, banyak di antara kita yang bermaksiat seolah-olah tidak ada hari kebangkitan, seolah-olah tidak ada hari pembalasan, seolah-olah tidak ada Dzat yang Maha Melihat segala perbuatan dan segala yang terbesit di dalam benak pikiran, di gelapnya malam apalagi di waktu terangnya siang. “Innalloha bikulli syai’in ‘aliim” sesungguhnya Alloh, Mengetahui segala sesuatu.

Mari kita mencoba untuk menyelami firman Alloh Subhanahu wa Ta’alaa, Alloh Ta’alaa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubatan nasuhaa (yakni taubat yang semurni-murninya), mudah-mudahan Robb kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian kedalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Alloh tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia,  sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim : 8)

Allahumma, betapa zalimnya diri ini, bergelimang dosa dan mengaku diri sebagai hamba, hamba macam apakah ini?. Yang tidak malu berbuat maksiat terang-terangan di hadapan pandangan Alloh ‘Azza wa Jalla.

Kenalilah kehinaan diri kita, sadarilah keagungan Alloh yang menciptakan dan memberi nikmat tak terhingga kepada kita, ingatlah pedihnya siksa yang menanti kita jika kita tidak segera bertaubat.

Cepatlah kembali tunduk kepada Ar-Rohman, sebelum terlambat. Karena apabila ajal telah datang maka tidak ada seorang pun yang bisa mengundurkannya barang sekejap ataupun menyegerakannya. Ketika maut itu datang, beribu-ribu penyesalan akan menghantui dan bencana besar ada di hadapan, siksa kubur yang meremukkan dan gejolak membara api neraka yang menghanguskan kulit-kulit manusia. Tentunya taubat kita bukan taubat sambal, sekali bertaubat, setelah itu tak lagi telat berbuat dosa susulan.

Imam Nawawi Rohimahulloh berkata bahwa “Taubat itu memiliki tiga rukun, meninggalkannya, menyesal atas perbuatan maksiatnya itu, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya selama-lamanya. Apabila maksiat itu berkaitan dengan hak manusia, maka ada rukun keempat yaitu membebaskan diri dari tanggungannya kepada orang yang dilanggarhaknya. Pokok dari taubat adalah penyesalan, dan penyesalan itulah rukunnya yang terbesar.

Imam Nawawi Rohimahulloh juga berkata bahwa ‘Ulama sepakat taubat itu wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda. Sama saja apakah maksiat itu termasuk dosa kecil atau dosa besar. Taubat merupakan salah satu prinsip agung di dalam agama Islam dan kaidah yang sangat ditekankan di dalamnya. So sahabat hijrah, mari kita bertobat sebelum terlambat, jika telat, niscaya penyesalan akan menghantui kita sehingga kita menjadi makhluk terlaknat, Na’udzubillahi min dzalik.

Apasih yang dimaksud dengan taubat?.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahulloh berkata bahwa “Taubat secara bahasa artinya kembali, adapun menurut syariat, taubat artinya kembali dari mengerjakan maksiat kepada Alloh Ta’alaa menuju ketaatan kepada Alloh Ta’alaa. Taubat yang terbesar dan paling wajib adalah bertaubat dari kekufuran menuju keimanan”.

Mari kita simak apa yang Alloh Ta’alaa firmankan,

قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغَفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ

Artinya, “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, jika mereka berhenti dari kekafirannya, niscaya Alloh akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu”. (QS. Al-Anfal : 38)

Kemudian tingkatan berikutnya adalah bertaubat dari dosa-dosa besar, kemudian diikuti dengan tingkatan ketiga yaitu bertaubat dari dosa-dosa kecil.

Apa yang ada di benak sahabat sekalian ketika mendengar kata untung?. Oh mungkin benak sahabat akan langsung konek alias nyambung dengan uang yang banyak dan tabungan yang melimpah, atau mungkin dagangan yang laku keras.

Tapi sahabat, untung menurut Alloh Ta’alaa adalah ketika kita kembali kepadaNya. Mari kita simak apa yang Alloh firmankan,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, Hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”. (QS. An-Nur : 31)

Kenapa ya kita selalu lalai dari taubat, seakan-akan kita tak akan menjumpai amal-amal kita, seakan kita tidak akan menjumpai timbangan amal dan perhitungan. Kita melambat-lambat diri, kita memandang remeh dosa dengan alasan, “ah, itu dosa kecil”.

Ataukah kita menganggap umur masih muda sehingga kita pikir kita bisa bertaubat di hari tua kita?. Tapi sahabat siapa yang menjamin kita akan hidup hingga masa tua, atau bahkan siapa yang menjamin kita masih hidup di jam berikutnya?.

Marilah kita lihat, bagaimana sang teladan kita, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tercinta bertaubat kepada Alloh Ta’alaa. Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu dia berkata, Aku pernah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Artinya, “Demi Alloh, sesungguhnya aku meminta ampun, beristighfar kepada Alloh dan bertaubat kepada Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali”. (HR. Bukhori)

Bahkan di dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bertaubat 100 kali dalam sehari.

Nah sahabat hijrah, marilah kita sama-sama untuk menghisab diri kita, apakah kebaikan yang banyak kita lakukan, atau keburukan yang banyak kita lakukan dalam kehidupan kita. Jika kebaikan kita rasa telah banyak kita laksanakan, maka harus kita syukuri sekaligus tetap diiringi taubat diri?. Kenapa?. Karena siapa yang tahu jika di antara kebaikan-kebaikan itu ada yang kurang keikhlasannya.

Jika kita banyak melakukan keburukan, maka tak ada alasan untuk tidak bertaubat, jangan pernah menunda-nunda, karena kita tidak tahu sampai kapan Alloh Ta’alaa menunda ajal kita. Jangan pernah bosan beristighfar karena kita tahu bahwa Alloh Ta’alaa tidak bosan mendengar rintihan kita. Jangan lupa juga, iringi taubat kita dengan amalan-amalan sholih unggulan. So, sahabat, lets tobat before it’s too late.

Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini semoga Alloh Ta’alaa mengampuni dosa-dosa yang kita lakukan, dan jangan lupa untuk berusaha keras menghindari maksiat yang saat ini sangat mudah dilakukan agar kita selamat di dunia dan akhirat. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: