Pertanyaan :

Dari Hamba Alloh, Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Apa arti tarawih dan bagaimana kalau sholat terburu-buru? Terimakasih atas jawabannya

Jawaban : 

Wa’alaykumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, sholat tarawih adalah sholat sunnah yang khusus dilakukan selama bulan Romadhon. Adapun sebagaimana yang ditanyakan tadi mengenai pengertian dari tarawih, tarawih dalam bahasa arab adalah bentuk jama’ dari   تَرْوِيْحَةٌ  yang diartikan, “waktu sesaat untuk istirahat”. Kenapa dinamakan begitu?  Karena waktu pelaksanaan sholat ini adalah selepas isya, dan beristirahat sejenak setelah melaksanakan sholat empat roka’at, biasanya dilakukan secara berjama’ah di masjid.

Perlu diketahui juga bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam hanya melakukannya secara berjama’ah dalam tiga kali kesempatan. Adapun alasan kenapa Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wassalam tidak melanjutkan pada malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi diwajibkan kepada ummat muslim.

Adapun sholat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu.  Beda halnya dengan sholat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah sholat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur, walaupun hal ini bukanlah syarat dari sholat tahajud.

Para ulama sepakat bahwa sholat tarawih hukumnya adalah sunnah. Bahkan menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum sholat tarawih adalah sunnah mu’akkad  atau sangat dianjurkan.

Imam Asy Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih afdhol sholat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan para sahabat Rodhiyallohu ‘anhum. Tentunya, hal ini juga menjadi syi’ar islam yang perlu dibiasakan.

Kemudian mengenai sholat tarawih yang terburu-buru, maka ini menyalahi tujuan dari sholat yang kita lakukan. Sebagaimana yang kita tahu, banyak sekali kita temukan sholat berjama’ah yang cepat dan terkesan terburu-buru. Padahal hal ini jelas-jelas kekeliruan yang sangat jauh dari kebenaran.

Sholat tarawih dengan tergesa-gesa besar kemungkinan melaksanakan sholatnya tanpa thuma’ninah. Baik ketika ruku maupun sujud.

Padahal, tentu kita semua juga tahu bahwa thuma’ninah adalah salah satu rukun sholat. Dalam sholat  kita pun dituntut untuk menghadirkan hati dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Alloh Ta’ala yang dibaca. Tentu thuma’ninah dan khusyu’ tidak didapati ketika seseorang ngebut dalam sholatnya. Jika mau dinilai, sedikit raka’at namun disertai khusyu’ ketika ruku’ dan sujud itu lebih baik daripada banyak raka’at namun dilakukan dengan ngebut yang jelas dilarang dalam sholat.

Kalau mau dikata, mengerjakan sholat malam dengan 10 raka’at namun disertai thuma’ninah lebih baik daripada 20 raka’at dengan tergesa-gesa. Karena ruh sholat adalah ketika hati itu benar-benar menghadap Allah Azza wa Jalla.

Begitu pula membaca Al Qur’an dengan tartil lebih baik daripada dengan terburu-buru. Yang masih dibolehkan adalah dalam keadaan cepat namun tidak ada satu huruf pun yang luput dibaca. Yang tidak dibolehkan adalah jika sampai menghilangkan satu huruf bacaan karena terburu-buru dalam sholat. Namun jika dibaca dengan bacaan yang jelas dan para jama’ah pun dapat mengambil manfaat, maka itu lebih baik.

Bahkan di dalam riwayat yang diterima dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu disebutkan, bahwa ketika Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wassalam melihat seseorang yang sholat dengan ngebut, maka beliau menegurnya dengan keras dan menyuruhnya untuk mengulangi sholat, bahkan beliau sampai menyuruhnya tiga kali karena lelaki itu masih melakukan sholat terburu-buru. Itu berarti sholatnya tidak ada nilai pahalanya sama sekali. Setelah itu, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wassalam mengajari  lelaki itu bagaimana sholat yang thuma’ninah.

Perlu ditekankan bahwa bagus tidaknya sholat kita adalah dinilai dari thuma’ninahnya. Maka alangkah baiknya jika memang jumlah rokaatnya banyak, tapi tetap dilakukan dengan thuma’ninah. Jika memang tidak mampu maka sholat tarawih sebelas rokaat bisa menjadi pilihan. Lihat saja contoh yang saat ini dipraktekkan di tanah haram, yaitu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan 23 raka’at namun cukup lama dan thuma’ninah. Wallohu ‘alam…

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah SALAM FM

%d blogger menyukai ini: