Keuntungan adalah sesuatu yang diinginkan oleh setiap manusia dalam setiap aktifitasnya. Setiap orang yang melakukan perdagangan tentulah mengharapkan keuntungan yang akan ia peroleh dari perdaganganya itu, orang yang bekerja pun demikian, mengharapkan balasan atau upah dari pekerjaanya.

Hal ini merupakan hal yang lumrah bagi manusia yang memiliki segudang kebutuhan. Mereka akan berusaha melakukan berbagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya itu. Kita pun demikian, memiliki kebutuhan yang tak terhitung jumlahnya yang harus kita penuhi setiap harinya.

Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk memenuhi dua sisi kebutuhan, yaitu kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmani. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Tidak ragu lagi bahwa kebahagiaan akhirat (Surga) harus dijadikan prioritas utama bagi setiap Muslim. Dan untuk meraih kebahagiaan tersebut, seorang Muslim harus berusaha menggapai ridho sang Pencipta dan Pemilik Surga. Dan ridho Alloh subhanahu wa ta’ala  hanya bisa digapai dengan iman dan amal Sholih sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

 إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal Sholih mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal selama-lamanya.
All
oh ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an bahwa penghuni surga adalah mereka yang beriman dan melakukan amal sholih. Iman adalah sesuatu yang paling penting dalam menggapai ridho Alloh subhanahu wa ta’ala, sedangkan amal sholih merupakan buah dari iman yang hakiki. Keimanan yang hidup akan mendorong kita untuk lebih antusias dalam beramal Sholih. Apabila iman tidak membuat kita beramal, maka bisa dipastikan iman itu palsu atau tidak ada sama sekali. Orang tidak bisa mengatakan “aku beriman” sebelum ia merealisasikan kata-katanya itu dalam bentuk amal.

Orang beriman sadar tentang manfaat yang besar dari mengerjakan amal sholih, maka mereka pun mengerjakannya dengan penuh semangat. Keimanan mengatakan bahwa dunia ini fana dan akan segera berakhir. Waktu begitu pendek, sementara amal begitu sedikit. Oleh karena itu, orang yang beriman akan segera melakukan amal sholih sebelum datang waktu di mana dia tidak lagi dapat beramal sholih. Orang yang beriman tentu akan mengamalkan wasiat Rosululloh sholallohu alaihi wasallam:

”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain): Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Cara memanfaatkan kelima hal diatas adalah seperti mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat atau menggunakannya dalam ketaatan kepada Alloh. Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan kesempatan yang begitu luas kepada kita untuk beramal sholih mulai sejak saat kita membuka mata di pagi hari, hingga kita menutupnya kembali dimalam hari, tidak hanya  itu, bahkan saat tidurpun bisa bernilai ibadah jika dengan tidur ini kita niatkan untuk memberikan hak untuk beristirahat bagi tubuh kita, yang dengannya kita bisa berbadah di keesokan harinya.

Sungguh rugi orang yang menyia-nyiakan kesempatan yang telah Alloh berikan untuk beramal sholih, padahal Rosululloh sholallohu alaihi wasallam telah bersabda :

Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alloh dan jangan merasa malas. (HR. Muslim)

Amal sholih sangat dibutuhkan untuk menggapai ridho Alloh subhanahu wa ta’ala, maka dari itu, setiap muslim hendaknya bersemangat untuk mengerjakan amal sholih, yang dengannya ia akan mendapatkan keuntungan terbesar yang diraih oleh manusia, yaitu surga. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. AlBuruuj [85]: 11).

Amal sholih atau ibadah memiliki makna yang sangat luas, tidak sebatas hanya dalam bentuk sholat, zakat, dan mengaji saja, akan tetapi amal sholih atau ibadah itu mencakup seluruh perkataan dan perbuatan yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh. Dan parkataan, begitu juga perbuatan yang paling dicintai oleh Alloh subhanahu wa ta’ala adalah perkataan dan perbuatan utusan-Nya Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, maka dari itu kita harus meneladani Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dalam berucap dan berbuat.

Inilah beberapa kriteria ucapan dan perbuatan baik yang dicontohkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam;

  1. Tidak berucap kecuali yang baik-baik, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
    “Barangsiapa yang beriman pada Alloh dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)
  1. Menjauhi kata-kata keji, mencela dan melaknat, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
    “Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji.” (HR at-Tirmidzi dengan sanad shahih)
  1. Tidak berdusta, karena dusta merupakan ciri-ciri orang munafik, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
    “Tanda-tanda munafik itu ada tiga, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR. al-Bukhori)
  1. Jelas dan benar dalam berbicara sebagaimana bicara Rosululloh sholallohu alaihi wasallam.
    “Bahwasanya perkataan Rosululloh itu selalu jelas sehingga bias dipahami oleh semua yang mendengar.” (HR. Abu Dawud)
  1. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits Nabi sholallohu alaihi wasallam:
    “Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling mengghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Demikianlah beberapa kriteria ucapan yang dicontohkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, dan hendaknya kriteria tersebut juga merupakan kriteria ucapan kita selama ini.

Inilah etos kerja islami yang dicontohkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Kita harus seimbang dalam bekerja mengejar dunia dan beribadah mengejar pahala akhirat. Dalam mengejar kehidupan dunia, kita harus merasa bahwa kita akan hidup selama-lamanya di dunia ini, dan kita harus memenuhi kebutuhan kita selama menjalani kehidupan tersebut, dengan demikian semangat kita akan terdorong untuk bekerja lebih giat untuk mencukupi kebutuhan kita dalam mengarungi kehidupan panjang yang akan kita lalui.

Sebaliknya dalam hal mengejar pahala akhirat, kita harus merasa bahwa hidup kita tidaklah lama, bahkan kita harus merasa bahwa kita akan mati esok hari. Dengan perasaan tersebut, kita akan merasa bahwa waktu begitu pendek untuk disia-siakan, dan pahala begitu sedikit untuk untuk dilalaikan. Maka akan muncullah semangat untuk mengumpulkan pahala untuk dibawa menghadap Dzat Yang Maha Kuasa.

Dengan mengamalkan wasiat dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam tersebut, kita akan menjadi orang yang giat bekerja dan beribadah. Di kesempatan yang lain Rosululloh sholallohu alaihi wasallam juga memotivasi para umatnya untuk giat bekerja dan beribadah, beliau bersabda :

Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alloh dan jangan merasa malas. (HR. Muslim)

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersemangat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kita. Hal bermanfaat yang dimaksud bukanlah hanya sebatas bermanfaat untuk dunia atau akhirat saja, akan tetapi bermanfaat yang mencakup keduanya, yaitu dunia dan akhirat.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi muslimin yang aktif dan produktif, yang begitu giat bekerja menggapai kebahagiaan dunia, namun hal itu tidak memalingkannya dari tujuan utama hidupnya, yaitu surga Alloh yang dipenuhi oleh bidadari-bidadari nan cantik jelita.

Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk dalam orang-orang yang mampu menaklukan dunia dengan tangan kita, dan menjadikan akhirat (surga) di hati kita sebagai tujuan dari setiap aktifitas yang kita lakukan. Amin,,.

Artikel: Gerimis