Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, Amar ma’ruf nahi munkar adalah sebuah gabungan kata dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.

Ar-Roghib al-Ashfahani Rohimahulloh mengatakan, “al-Ma’ruf adalah satu nama bagi setiap perbuatan yang diketahui kebaikannya oleh akal atau syari’at, sedangkan al-munkar adalah apa yang diingkari oleh keduanya.”

Sedangkan menurut syari’at, bahwa al-ma’ruf adalah segala hal yang dianggap baik oleh syari’at, diperintah melakukannya, dipuji dan orang yang melakukannya dipuji pula. Segala bentuk ketaatan kepada Alloh Ta’alaa masuk dalam pengertian ini. Al-Ma’ruf yang paling utama adalah mentauhidkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan beriman kepada-Nya.

Kemudian untuk definisi al-munkar adalah segala yang dilarang oleh syari’at atau segala yang menyalahi syari’at.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh mengatakan, bahwa al-Munkar adalah satu nama yang mencakup segala yang di larang Alloh.”

Ketika menerangkan sifat umat Islam, Imam asy-Syaukani Rohimahulloh mengatakan, “Sesungguhnya mereka menyuruh kepada (perbuatan) yang ma’ruf dalam syari’at ini dan melarang dari yang mungkar. Dan yang dijadikan tolok ukur bahwa sesuatu itu ma’ruf atau mungkar adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Dari penjelasan ini, jelas bahwa menentukan suatu keyakinan, perkataan atau perbuatan itu ma’ruf atau munkar bukanlah hak pelaku amar ma’ruf nahi munkar. Namun semua itu dikembalikan kepada penjelasan al-Quran dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafus Sholeh.

Kemudian berkenaan dengan keutamaan amar ma’ruf nahimunkar Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi Rohimahulloh mengatakan, “Ketahuilah, bahwa amar ma’ruf nahimunkar adalah poros yang paling agung dalam agama. Ia merupakan tugas penting yang karenanya Alloh Ta’alaa mengutus para Nabi ‘alayhimussalam. Andaikan tugas ini ditiadakan, maka akan muncul kerusakan di mana-mana dan dunia akan hancur.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh berkata, “Amar ma’ruf nahi munkar merupakan penyebab Alloh Ta’alaa menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rosul-Nya, serta bagian inti agama.”

Dan diantara keutamaan amar ma’ruf nahi munkar adalah,

Keutamaan yang pertama, amar ma’ruf nahimunkar termasuk kewajiban paling penting dalam Islam.

Ketamaan yang kedua. Sebagai sebab keutuhan, keselamatan dan kebaikan bagi masyarakat.

Keutamaan yang ketiga. Menghidupkan hati.

Kemudian keutamaan yang keempat. Sebagai faktor yang bisa mengundang pertolongan, kemuliaan dan kekuasaan di bumi.

Dan keutamaan yang kelima, bahwa amarma’ruf nahi munkar termasuk shodaqah.

Dan masih banyak keutamaan-keutamaan yang lainnya, yang akan diperoleh orang yang menegakan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain memiliki keutamaan yang sangat mulia, terdapat akibat dan pengaruh jelek bagi orang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar,

Akibat yang pertama, akan mendapat laknat Alloh Ta’alaa, celaan dan  kehinaan.

Kemudian akibat yang kedua, akan mendapat hukuman dari Alloh Ta’alaa.

Akibat yang ketiga, mudah dikuasai oleh musuh-musuh Islam.

Akibat yang keempat, tidak dikabulkannya doa.

Akibat yang yang kelima, akan dibinasakan oleh Alloh Ta’alaa.

Akibat yang keenam, akan dimintai pertanggung jawabannya pada harikiamat.

Akibat yang ketujuh, akan jatuh dalam kebinasaan, membuat hati sakit atau bahkan mematikannya.

Teradapat 2 hukum bagi orang yang mengingkari kemungkaran dengan tangan dan lisan,

Hukum yang pertama adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana Alloh Ta’alaa berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imron : 104)

Imam Ibnu Katsir Rohimahulloh mengatakan dalam kitab tafsirnya, “Maksud ayat ini ialah hendaklah ada segolongan dari umat ini yang siap memegang peran ini yaitu amar ma’ruf nahi munkar.”

Oleh karena itu, wajib bagi ulil amri atau pemimpin untuk menunjuk sejumlah orang yang memiliki kemampuan dan persiapan untuk menjalankan tugas ini. Karena ada beberapa perbuatan mungkar yang tidak bisa diubah kecuali oleh sejumlah orang tertentu yang memiliki ilmu, pemahaman yang benar dan sikap hikmah. Misalnya untuk membantah firqoh Bathiniyah (shufiyah) dan menjelaskan kekeliruan keyakinan mereka dan lainnya. Apabila lembaga ini menjalankan kewajibannya sebagaimana mestinya maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya.

Pengingkaran kemungkaran dengan tangan dan lisan, wajib dilakukan sesuai kemampuan,

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِذَا عُمِلَتِ الْـخَطِيْئَةُ فِـي الْأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا كَرِهَهَا وَقَالَ مَرَّةً : أَنْكَرَهَا كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا

Artinya, “Jika sebuah kesalahan dilakukan di muka bumi, maka orang yang melihatnya kemudian membencinya (Beliau pernah bersabda: lalu mengingkarinya) sama seperti orang yang tidak melihatnya sementara orang tidak melihatnya namun merestuinya maka sama seperti orang yang melihatnya”. (HR. Abu Dawud)

Dan hukum yang kedua adlah fardhu ‘ain, hal ini sebagaimana keumuman sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam,

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Artinya, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan jika tidak mapu maka dengan hatinya”. (HR. Muslim)

Hadits ini  menunjukkan bahwa mengingkari kemungkaran wajib atas setiap individu yang memiliki kemampuan serta mengetahui kemungkaran atau melihatnya.

Imam an-Nawawi Rohimahulloh mengatakan, “Sesungguhnya amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah kemudian terkadang menjadi fardhu ‘ain jika pada suatu keadaan dan kondisi tertentu tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia”.

Jadi orang yang melihat kesalahan kemudian membencinya dengan hati, sama seperti orang yang tidak melihatnya namun tidak mampu mengingkarinya dengan lisan dan tangannya.Sementara orang yang tidak melihat kesalahan itu kemudian merestuinya, ia sama seperti orang yang melihatnya, namun tidak mengingkarinya padahal ia mampu mengingkarinya. Karena merestui kesalahan-kesalahan termasuk perbuatan haram yang paling buruk serta menyebabkan pengingkaran dalam hati tidak dapat dilaksanakan padahal pengingkaran dengan hati merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan tidak gugur dari siapa pun dalam semua kondisi.

Dari penjelasan dapat diketahui bahwa mengingkari kemungkaran dengan hati adalah wajib bagi setiap Muslim dalam semua kondisi, sedang mengingkarinya dengan tangan dan lidah itu sesuai dengan kemampuan. Sebagaimana dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq Rodhiyallohu ‘anhu, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْـمَعَاصِيْ يَقْدِرُوْنَ عَلَـى أَنْ يُغَيِّرُوْا ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوْا إِلَّا يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ

Artinya, “Tidaklah suatu kaum yang dikerjakan ditengah-tengah mereka berbagai kemaksiatan yang mampu mereka mencegahnya namun tidak mereka cegah, melainkan Alloh pasti akan menurunkan hukuman kepada mereka semua”. (Abu Dawud, Ahmad dan yang lainnya)

Dari Abu Sa’id al-Khudri Rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya Alloh pasti bertanya kepada seorang hamba pada hari Kiamat hingga Dia bertanya, ‘Apa yang menghalangimu dari mengingkari sebuah kemungkaran jika engkau melihatnya?’ Jika Alloh telah mengajarkan hujjah kepada hamba-Nya tersebut, hamba tersebut berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku berharap kepada-MU, dan aku tinggalkan manusia”. (Ahmad dan Ibnu Majah)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan mengenai “Amar Ma’ruf Nahi Munkar Menurut Ahlus Sunnah bagian1. InsyaAlloh pembahasan akan kita lanjutkan pada edisi selanjutnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: