Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, di antara prinsip-prinsip keyakinan Ahlus Sunnah adalah mengimani adanya adzab kubur dan kenikmatannya. Tidak ada perselisihan di antara mereka tentang hal ini.

Ahlus sunnah meyakini bahwa ketika seseorang meninggal dunia, ia tidak lantas menempati peristirahatan terakhir. Ia hanya singgah untuk sementara waktu, meskipun persinggahan itu bisa lebih lama daripada ketika ia hidup di alam dunia. Itulah alam barzakh, alam kubur. Bahkan mungkin di sana, ia tidak sempat beristirahat sama sekali, meski hanya sekejap, sebab ia terus-menerus mendapatkan siksa. Na’udzubillah.

Alam barzakh ini pasti dilalui oleh setiap insan, sebelum datangnya hari pengadilan besar yang siapapun tidak akan bisa lolos darinya, hari kiamat. Hari yang tidak pernah diharapkan kehadirannya oleh orang kafir, sebab mereka sudah mengetahui dan merasakan kedahsyatannya ketika mengalami siksa hebat di kuburnya.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam banyak menceritakan keadaan di alam kubur ini. Bahkan Beliau banyak menceritakan tentang siksa yang ditimpakan kepada orang-orang muslim yang bermaksiat.

Beliau pernah menceritakan siksa kubur yang di alami oleh dua orang. Yang satu disebabkan oleh namimah yakni menghasut dan adu domba. Sedangkan yang lain disebabkan oleh kencing yang tidak bersih. Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang diazab. Dan keduanya tidak diazab dalam masalah besar,” kemudian Beliau bersabda: “Ya. Adapun salah seorang di antara mereka, dikarenakan ia berjalan dengan menebarkan adu domba. Sedangkan yang satunya lagi karena tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Kemudian dalam hadits yang lain, diriwayatkan bahwa suatu hari, setelah shalat subuh, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bercerita kepada para sahabatnya tentang siksa dahsyat yang dialami di kuburnya, orang yang melalaikan shalat fardhu, orang yang suka berdusta, para pezina dan pemakan riba. Siksa itu terus menerus dialami hingga hari Kiamat.

Kisahnya dibawakan oleh Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, di antara yang sering dikatakan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabatnya adalah, “Adakah seseorang di antara kalian melihat suatu mimpi dalam tidurnya?” Lalu Beliau menceritakan apa saja yang Beliau lihat dalam tidurnya sebagaimana yang dikehendaki Alloh.

Pada suatu pagi beliau bersabda kepada kami :

“Sesungguhnya malam tadi telah datang kepadaku dua malaikat. Dalam mimpi, keduanya membangunkanku. Lalu keduanya berkata kepadaku, “Berangkatlah!” Lalu aku berangkat bersama keduanya. Kami mendatangi seseorang yang terbaring. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa sebongkah batu. Tiba-tiba orang ini menjatuhkan batu itu ke kepala orang yang terbaring tersebut hingga memecahkan kepalanya. Lalu batu itu menggelinding ke arah orang yang menjatuhkan batu, maka iapun mengikuti batu itu lalu mengambilnya. Namun ia segera kembali menjatuhkan batu itu ke kepala orang yang terbaring hingga kepala orang tersebut kembali utuh seperti sedia kala. Ketika kepala orang itu kembali utuh, ia ulangi perbuatannya atas orang yang terbaring itu seperti pada kali pertama.

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Aku bertanya kepada keduanya, ‘Subhanalloh, Mengapa dua orang ini?’. “Kedua malaikat tersebut berkata kepadaku, “Berangkat lagi, berangkat lagi!”

“Kemudian kami berangkat lagi. Kami mendatangi orang yang terlentang pada tengkuknya. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa kait yang terbuat dari besi. Tiba-tiba ia datangi sebelah wajah orang yang terlentang itu, lalu ia robek dengan kait besi tersebut mulai dari sebelah mulutnya hingga tengkuknya, mulai dari lubang hidungnya hingga tengkuknya, dan mulai dari matanya hingga tengkuknya.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam kemudian bersabda, “Selanjutnya orang itu berpindah ke sebelah wajah lainnya dari orang yang terlentang tersebut dan melakukan seperti yang dilakukannya pada sisi wajah yang satunya. Belum selesai ia berbuat terhadap sisi wajah yang lain itu, sisi wajah pertama sudah sehat kembali seperti sedia kala. Maka ia mengulangi perbuatannya, ia lakukan seperti yang dilakukannya pada kali pertama.”

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Aku bertanya kepada kedua malaikat yang menyertaiku itu, ‘Subhanalloh, mengapa dua orang ini?’. ‘Keduanya berkata kepadaku, “Berangkat lagi, berangkat lagi!”

“Kami berangkat lagi. Lalu kami mendatangi sesuatu yang bentuknya seperti tempat pembakaran. Perawi hadits ini memperkirakan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Ternyata di dalamnya ada hiruk pikuk teriakan dan suara-suara.” Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Maka kami menjenguk ke dalamnya. Ternyata di dalamnya ada kaum laki-laki dan kaum perempuan yang semuanya bertelanjang bulat. Tiba-tiba mereka diterpa jilatan api yang datang dari sebelah bawah mereka. Ketika jilatan api itu datang menerpa, mereka berteriak-teriak.”

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Aku bertanya kepada dua malaikat yang menyertaiku, ‘Siapakah mereka itu?’. “Keduanya berkata kepadaku, “Berangkat lagi, berangkat lagi!”

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda lagi, “Maka kamipun berangkat. Lalu kami mendatangi sebuah sungai. Ternyata di sungai itu ada seseorang yang sedang berenang. Sementara di tepi sungai ada seseorang yang mengumpulkan batu-batu yang banyak. Tiba-tiba, ketika orang itu tengah berenang, ia menepi menuju orang yang mengumpulkan batu. Pengumpul batu itu membuka mulut orang yang tengah berenang lalu menjejalkan batu-batu itu ke mulutnya. Kemudian ia berenang kembali, lalu kembali lagi kepada pengumpul batu. Maka pengumpul batu itupun membuka mulut orang tersebut dan menjejalkan batu ke mulutnya.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Aku bertanya kepada dua malaikat yang menyertaiku, ‘Siapakah dua orang ini?’. “Keduanya berkata kepadaku, “Berangkat lagi, berangkat lagi…!”

Sampai akhirnya Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Kemudian aku berkata kepada kedua malaikat tersebut, ‘Malam ini aku benar-benar melihat hal-hal yang menakjubkan. Apa arti hal-hal yang aku lihat?’ Keduanya menjawab, “Kami akan ceritakan kepadamu”.

Adapun orang pertama yang engkau datangi dan kepalanya dipecahkan dengan batu, ialah orang yang faham Al-Quran, namun kemudian ia meninggalkan ketentuannya dan tidur melalaikan shalat wajib.

Sedangkan orang yang engkau datangi, disobek ujung mulut hingga tengkuknya, lobang hidung hinga tengkuknya dan mata hingga tengkuknya, ialah orang yang sejak pagi-pagi keluar rumahnya, lalu melakukan kedustaan-kedustaan hingga mencapai kaki-kaki langit.

Sedangkan kaum laki-laki serta kaum wanita yang sama-sama telanjang bulat di suatu tempat yang mirip tempat pembakaran adalah para pezina. Dan orang yang engkau datangi tengah berenang di suatu sungai sambil dijejali batu mulutnya adalah pemakan riba.

Demikianlah beberapa bentuk siksaan di alam kubur yang dialami sebagian ahli maksiat. Sangat mengerikan dan cukuplah itu menjadi peringatan bagi kita semua. Apalagi siksa kubur yang akan dialami orang-orang kafir serta munafik. Alloh Ta’ala berfirman,

Artinya, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang zholim (kafir) berada dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan”. (QS. Al-An’am : 93)

Ibnu Abbas Rodhiyallohu ‘anhu menjelaskan makna ayat dengan berkata bahwa hal itu terjadi ketika seseorang sedang dalam kematian. Sedangkan arti al basthu ialah memukul. Yakni para malaikat memukuli wajah orang-orang itu dan juga punggung-punggung mereka.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rohimahulloh menjelaskan bahwa “Hal ini, meskipun terjadi sebelum dikubur, namun ia termasuk azab yang terjadi sebelum hari Kiamat, kemudian dikaitkan dengan azab kubur. Sebab, umumnya azab semacam itu terjadi di alam kubur, dan juga orang-orang yang telah mati umumnya dikuburkan. Kalaulah tidak dikuburkan, maka orang kafir maupun orang maksiat yang dikehendaki Alloh mendapat siksa, akan tetap disiksa meskipun belum dikuburkan. Tetapi makhluk lain tidak bisa melihat kejadian itu, kecuali yang dikehendaki Alloh”.

Mengenai ayat ini, Imam Al-Qurthubi Rohimahulloh mengatakan bahwa “Menurut mayoritas ‘Ulama, dinampakkannya neraka kepada Fir’aun dan kaumnya pada ayat ini ialah di alam barzakh. Ini merupakan bukti tentang penetapan adanya azab kubur”.

Imam Bukhari Rohimahulloh juga memaparkan ayat-ayat tersebut sebagai bukti tentang adanya azab kubur.

Sementara itu dalam hadits riwayat dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Adapun orang munafik dan kafir, akan ditanyakan kepadanya, “Apa yang engkau katakan tentang orang yang diutus oleh Alloh ini?” Ia menjawab, “Tidak tahu. Dahulu aku pernah mengatakan apa yang dikatakan orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Engkau tidak memahami apapun dan tidak mengikuti Al-Quran”. Orang itu kemudian dipukul keras dengan palu dari besi. Menjeritlah ia dengan satu jeritan yang didengar oleh semua yang berada di sekitarnya, kecuali jin dan manusia”. (HR. Bukhori)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, inilah di antara dalil-dalil yang menunjukkan adanya azab kubur berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Semoga, penjelasan ini semakin menguatkan keimanan kita dan kewaspadaan terhadap hal-hal yang dapat menjerumuskan dalam azab kubur. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: