Pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan tentang adab pergaulan sesama muslim di edisi yang kedua. (Edisi 1)

Kita akan lanjutkan adab pergaulan sesama muslim yang berikutnya.

Yang Keempat; Disunnahkan Memberi Nasihat Kepada Saudara Seiman

Saling memberi nasihat di antara sesama muslim termasuk dalam kesempurnaan persaudaraan. Saling memberi nasihat merupakan tuntutan syar’i yang dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan merupakan bagian dari perkara-perkara yang menjadi sebab para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam berbai’at kepada beliau.

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah radhiallahu anhu, bahwa ia berkata, “Saya membai’at Rasulullah shalallahu alaihi wasallam agar menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shalallahu alaihi wasallam menggandengkan syari’at memberi nasihat ini bersamaan dengan shalat dan zakat, padahal yang kita ketahui shalat dan zakat merupakan bagian dari rukun islam, hal ini menunjukkan betapa besarnya dan tingginya kedudukan saling menasihati di antara sesama muslim.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Agama adalah nasehat.“ Kami ‘para sahabat’ bertanya, untuk siapakah wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ‘Untuk Allah, Untuk kitab-Nya, Untuk rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan untuk seluruh kaum muslimin.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini, “Agama adalah nasehat, maksudnya, bahwa nasehat adalah amalan yang paling utama dan yang paling sempurna dalam agama.

Kemudian “Nasihat untuk Allah” maksudnya adalah, membela agama Allah, Sebagaimana seorang ulama, Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa nasehat untuk Allah adalah membela agamanya, dan menghancurkan segala bentuk kesyirikan kepada Allah, walaupun Allah tidak membutuhkan hal tersebut, akan tetapi manfaatnya kembali kepada hamba-Nya.

Sedangkan maksud dari nasihat untuk kitabnya adalah, membela al-Qur’an dan senantiasa membaca dan mengamalkan.

Kemudian nasehat untuk Rasulnya maksudnya adalah, Melaksanakan tuntunannya dan mengajak kepada dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kemudian maksud dari nasehat untuk imam atau pemimpin kaum muslimin adalah, menaati mereka, berjihad bersama mereka, menjaga bai’at kepada mereka, memberi nasehat kepada mereka tanpa adanya pujian-pujian yang membuat mereka terpedaya.

Dan yang dimaksud dengan nasehat untuk seluruh kaum muslimin adalah, berdakwah kepada mereka, keinginan memberikan kebaikan kepada mereka, termasuk dalam hal ini mengajarkan dan memperkenalkan perkara yang wajib, dan menunjukkan mereka kepada al-haqatau kebenaran.

Berdasarkan hal ini, maka nasehat untuk saudara-saudara kita, harus dilandasi dengan tujuan untuk memberikan kebaikan kepada mereka, menjelaskan kebenaran kepada mereka, mengarahkan mereka kepada kebaikan, tidak menipu mereka, serta berlemah lembut kepada mereka dalam masalah agama Allah.

Termasuk pula memerintahkan mereka kepada perkara yang ma’ruf, dan melarang mereka dari kemungkaran, walaupun hal itu menyelisihi hawa nafsu mereka dan kebiasaan mereka. Dan ingatlah, bahwa saling nasihat-menasihati merupakan tanda kesempurnaan persaudaraan.

Selanjutnya, Adab yang kelima dalam pergaulan sesama muslim adalah, Saling Tolong Menolong Sesama Saudara Seiman.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah suri tauladan yang patut dicontoh oleh umatnya. Derajat kerasulan yang disandang oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam, tidak menghalangi beliau sedikit pun untuk hidup bersama-sama dengan para sahabatnya baik dalam keadaan senang maupun sulit. Di antara contohnya yang dapat kita lihat dalam keikutsertaan Nabi shalallahu alaihi wasallam bersama sahabatnya adalah ketika membangun masjid Nabawi di Madinah.

Mengenai hal ini, Anas radhiallahu anhu berkata, Mereka memindahkan batu-batuan sambil mendendangkan Ar-Rajaz –yaitu salah satu macam alunan puisi- dan Nabi shalallahu alaihi wasallam bersama mereka, begitupun pada peristiwa perang Khondaq, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bergabung bersama para sahabatnya dalam menggali parit pertahanan.

Sebagai seorang muslim kita harus saling memberi bantuan dalam menutupi kekurangan dan kefakiran yang ada pada saudara kita, atau memberi rekomendasi yang baik di dalam menunaikan hajat kebutuhan.

Oleh karena itu, setelah mengetahui adab ini, jangan ragu lagi mengulurkan tangan kita untuk membantu saudara-saudara seiman yang sedang membutuhkan pertolongan. Bersemangatlah dalam hal ini, karena Allah senantiasa menolong seorang hamba, selama seorang hamba itu menolong saudaranya.

Selanjutnya, Adab keenam yang perlu diperhatikan adalah, Saling Merendah Di Antara Saudara, Tidak Sombong atau Meremehkan yang Lain.

Saling merendahkan diri dan bersikap lemah lembut kepada sesama saudara, dapat melanggengkan persaudaraan, serta memperkuat ikatan persaudaraan di antara kita. Sedangkan bersikap sombong atau meremehkan orang lain merupakan sebab timbulnya sikap saling menjauhi di antara kita, juga merupakan tanda putusnya tali persaudaraan di antara kita.

Merendah itu merupakan sifat yang dituntut dan juga diperintahkan. Sedangkan sifat angkuh adalah sifat terlarang dan tercela.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Iyadh bin Himar radhiallahu anhu, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, sampai tidak ada seorang pun meremehkan orang lain dan bersikap sombong kepada orang lain. (HR. Muslim)

Memang dalam masalah penghasilan, kita memiliki tingkatan yang berbeda-beda, masalah keturunan, status sosial, atau juga harta kekayaan. Ini sudah merupakan ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ya, sekali lagi ini merupakan ketetapan dari Allah, tidak ada orang yang mulia karena dirinya sendiri menjadikannya mulia, dan tidak ada juga orang yang rendah karena menjadikan dirinya rendah, begitu juga seorang yang fakir dan orang kaya raya, mereka semua ditetapkan seperti itu oleh Allah, tentu dengan hikmah Allah yang agung dalam menetapkan segala urusan makhluknya.

Yang harus diingat adalah, jangan sampai karena perbedaan kedudukan martabat manusia, kita diperbolehkan menganggap diri lebih tinggi dari pada yang lain atau meremehkan orang lain yang kita anggap lebih rendah kedudukan atau status sosialnya.

Bahkan ketika orang mulia atau orang mempunyai kedudukan, juga orang yang kaya merendahkan diri kepada Allah, bersikap tawadhu dan lemah lembut terhadap saudaranya yang lain, akan menambah tinggi derajatnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, juga keberadaannya diterima di sisi saudara-saudaranya. Jadi, dengan sikap tawadhu seperti ini derajat kita akan semakin tinggi di sisi Allah.

Berikutnya, adab yang ketujuh adalah, Berakhlak Terpuji.

Contoh nyata dari akhlak terpuji dalam pergaulan sesama muslim di antaranya adalah, dengan menampakkan wajah yang berseri-seri, bersabar ketika mendapatkan gangguan, menahan amarah, dan berperangai yang terpuji.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa, orang yang paling baik adalah, yang paling baik akhlaknya.

Dalam pergaulan sesama saudara muslim, akhlak yang terpuji menempati bagian yang besar dalam hal interaksi di antara kita. Dengan akhlak yang baik, hubungan yang terjalin di antara kita akan semakin panjang, melembutkan hati, mencabut rasa dendam dari dalam dada, dan manfaat-manfaat lainnya yang sangat banyak.

Adab yang kedelapan, Membersihkan Noda Dalam Hati Dalam Pergaulannya.

Di antara doa Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah beliau mengucapkan doa, “Lepaskanlah kedengkian di dalam hatiku”.

Terkadang dalam sebuah pergaulan di antara kita, terjadi suatu hal yang mengganggu kita, atau bahkan ada kezhaliman yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita. Ada pula perbedaan-perbedaan karunia dari Allah, sehingga hal tersebut memancing timbulnya kedengkian dalam hati kita.

Maka membersihkan noda dalam hati kita di sini maksudnya adalah, kita tidak menyikapi kezhaliman, kesewenang-wenangan orang lain dengan niat membalas kejahatan mereka, tidak juga dengki ketika saudara kita memperoleh suatu nikmat.

Jika kita mampu melakukan hal ini, niscaya kita akan mendapatkan kedudukan mulia berupa akhlak yang tinggi dan perangai yang luhur.

Namun, kepribadian dan perilaku yang sangat luhur kedudukannya ini, ternyata hanya sedikit sekali yang memilikinya. Akhlaq mulia ini jarang dan sedikit sekali dijumpai pada manusia, apalagi di zaman sekarang, akan tetapi hal itu akan menjadi mudah bagi orang yang telah dimudahkan oleh Allah. Maka hendaknya kita berdoa kepada Allah, agar diberikan kemudahan untuk membersihkan segala noda di hati, sehingga kejernihan pergaulan kita sesama muslim akan tetap terjaga, dan kita pun memperoleh kedudukan yang tinggi.

Demikianlah beberapa adab yang dapat kita bahas berkaitan dengan adab bergaul dengan sesama Muslim, masih ada beberapa adab bergaul sesama muslim lainnya yang akan kita bahas, Insya Allah akan kita lanjutkan di edisi berikutnya, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Artikel berseri: